Kamis, 05 Oktober 2017

Tugas1 - Artikel 4 Softskill Teknologi New Media

Tema : Digital Cinema pada Teknologi Bioskop Digital




Semakin pesatnya teknologi Digital Multimedia saat ini dimana para produsen film film dunia saat ini mulai mengalihkan teknik produksi film nya ke format Digital, hal ini semakin memaksa Bioskop Konvensional yang terbiasa menggunakan film seloluid 35mm untuk mengkonversi ke proyektor digital atau yang disebut DCP (Digital Cinema Package)

Di Indonesia sendiri saat ini (tahun 2014) sudah hampir semua Bioskop besar seperti 21, XXI, Blitzmegaplex, Platinum dan (yang baru berdiri) Cinemaxx sudah memiliki studio Bioskop Digital


Ada beberapa nama besar proyektor bioskop yang paling banyak di aplikasikan di bioskop bioskop yang ada di indonesia berikut penampakannya
Barco Projektor: 


Kisaran Harga untuk resolusi 2K daya 37.000 Lumen $100,588

Cristie Projector: 


Kisaran Harga resolusi 4K $125,000 untuk yang 25,000-lumen dan $161,000 untuk yang 35,000-lumen

Nec Projector: 



Kinoton Projector: 


Cinemeccanica Projector: 






Semua proyektor diatas memiliki kualitas bentang 4k (3.840 x 2.160 Pixel)


Projector untuk standard bioskop itu harus punya intensitas cahaya yang terang (satuannya lumen) diatas 25.000 lumen jika di bandingkan dengan projector untuk presentasi biasanya terdiri kisaran 2.000 - 4.000 lumen, untuk Masalah harga jangan kaget nih yah harga satu proyektor merek Cristie misal, $125,000 untuk yang 25,000-lumen dan $161,000 untuk yang 35,000-lumen.

Meski demikian secara resolusi, kopi film 35mm “tradisional” masih lebih unggul dari format DCP yang sekarang ada. Format kopi film 35mm diperkirakan setara dengan resolusi 8K sedangkan format tayang di bioskop digital yang paling tinggi kualitasnya masih 4K. Kelebihan format digital adalah kejernihan kualitas gambar yang selalu konsisten karena tidak adanya risiko gambar cacat atau kotor karena sentuhan fisik seperti yang terjadi dengan kopi film.

Sejarah Digital Cinema ini sendiri bermula pada tahun 2002 dimana pada saat itu para Major Studio Hollywood membentuk sebuah organisasi yang bernama Digital Cinema Initiative (DCI). Organisasi ini diciptakan untuk menentukan standar arsitektur untuk bioskop digital agar tercapai model yang seragam secara global, berkualitas tinggi dan tangguh. Dengan mengacu pada standar Society of Motion Picture and Television Engineers (SMPTE) maupun International Organization for Standardization (ISO) maka ditentukan standar/format tertentu yang harus diaplikasikan untuk menyiapkan master materi film, sistem distribusinya, sampai ke urusan perlindungan isi film (content), pengacakan (encryption), dan penandaan khusus untuk menghindari pembajakan (forensic marking). Semua teknologi bioskop digital yang memenuhi persyaratan mereka disebut DCI Compliance (sesuai/cocok dengan DCI). Perbedaan dasar antara sinema analog dengan digital adalah cara pengemasannya (packaging), distribusi, dan penayangannya.

Untuk pendistribusian sebuah film, idealnya produser/rumah produksi mengirim materi ke server bioskop pada waktu dan tempat yang ditentukan lewat jaringan satelit. Kenyataaannya, karena keterbatasan infrastruktur, sampai sekarang materi film dikirim secara fisik dalam bentuk hard disk portable ke bioskop tujuan dan kemudian datanya ditransfer ke server bioskop.

Materi film itu baru bisa ditayangkan bila dimasukkan nomor seri khusus ke dalam sistem proteksi isi, pengacakan, dan penandaan khusus yang menempel pada materi film digital itu. Teknologi sistem proteksi isi ini disebut Key Delivery Message (KDM). Dengan KDM, materi film digital hanya bisa dibuka dengan nomor seri khusus pada waktu dan di tempat yang sudah ditentukan. Apabila terjadi pembajakan di bioskop, dengan alat khusus dapat dibaca watermark digital di kopi bajakan sehingga dapat dilacak di bioskop mana dan kapan pembajakan terjadi.

Dolby Show Library: 

Ini adalah alat server untuk penyimpanan film digital buatan Dolby

Dolby Secure Conten Creator: 

Ini adalah alat untuk encoding atau conversi format data digital buatan Dolby


Untuk harga investasi sendiri, jelaslah harga investasi Bioskop Digital ini jauh lebih mahal ketimbang bioskop analog, seperti yang sudah di singgung di atas tadi harga satu projector berkisar USD 150.000 bandingkan dengan harga proyektor analog yang hanya USD 50.000 belum lagi di tambah beban pembelian server dimana satu alatnya berkisar sekitar USD 8.800.

Teknologi IMAX digital
Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, IMAX (Image Maximum) merupakan sebuah format film dengan layar lebar, Standar layar IMAX adalah 22 meter lebar dan 16 meter panjang (72,6 x 52,8 kaki), Dikembangkan oleh IMAX Corp pada 1970, menggunakan pita seluloid 70mm yang dijalankan secara horizontal, sehingga lebar pita tersebut merupakan bagian tinggi dari frame. Pada format 70mm lainnya, lebar pita tersebut adalah lebar dari frame gambar. Setiap frame lebarnya 15 perforasi (lubang-lubang pada bagian pinggir pita seluloid). Area gambar pada format IMAX lebarnya 70mm dan tingginya 52mm. Aspect-ratio-nya 1:1,44 (hampir sama dgn aspect ratio TV tabung yg 1:1,33 atau 4:3). Ukuran frame 15/70 hampir sembilan kali frame 35mm. Proyektor IMAX 15/70 menggunakan lampu Xenon 15.000 watt agar dapat menerangi layar berukuran amat-sangat besar.
IMAX Seluloid: 
Mengenal Lebih Jauh Teknologi Bioskop Digital
Perbandingan Seluloid IMAX dengan Seluloid Convensional

Mengenal Lebih Jauh Teknologi Bioskop Digital
Ruang Proyektor IMAX Seluloid

Pada tahun 2008 IMAX merilis teknologi terbarunya yaitu sistem IMAX Digital, yang menggunakan dua proyektor Digital merk Christie ber-resolusi 2K. Aspect-ratio yang digunakan adalah 1:1,9 (hampir sama dengan TV layar datar, 16:9). Penggunaan dua proyektor dimaksudkan agar dihasilkan intensitas cahaya yang cukup untuk menerangi layar yang ukurannya 2 atau 3 kali ukuran layar bioskop konvensional. 1 proyektor IMAX Digital menggunakan lampu Xenon dengan daya lampu 6.500 watt.

Projector IMAX Digital: 
Mengenal Lebih Jauh Teknologi Bioskop Digital
Mengenal Lebih Jauh Teknologi Bioskop Digital


DOLBY DIGITAL SURROUND

Sering lihat kan logo THX di atas itu jika film yang akan kita lihat di bioskop akan segera di putar? lantas apa sebenarnya THX tersebut?

THX singkatan dari "Tomlinson Holman's eXperiment," dan diciptakan oleh Holman ketika ia bekerja dengan Lucas film Studios untuk menciptakan standar baru reproduksi audio untuk memastikan kualitas dan keseragaman kualitas di semua sistem teater yang berniat memainkan film mereka. "THX" adalah metode reproduksi suara yang mengikuti aturan ketat untuk menciptakan kualitas suara digital ultra-tinggi dalam sistem audio surround sound. Sistem ini bisa terdapat pada teater profesional atau sistem suara bioskop, sistem home theater sederhana, atau surround sound system untuk PC.

Reproduksi suara Bersertifikat THX tidak mengharuskan audio yang disimpan dalam format tertentu atau khusus, apakah itu seperti Dolby Digital atau yang lainnya. Sebaliknya, THX adalah sertifikasi kualitas terbaik suara yang direproduksi, atau "dimainkan" oleh sebuah sistem speaker. THX Certified surround sound system seperti 7,1 atau 5,1 atau bahkan 2,1 multimedia surround sistem home theater sound digunakan untuk memutar suara THX dari komputer, televisi, dan sistem video game.Jadi singkatnya THX adalah jaminan mutu sebuah audio sistem menghasilkan suara dengan kualitas tertinggi.

Sedangkan Dolby® Digtal Surround adalah teknologi tatasuara terbaru (2010) yang dikembangkan oleh Dolby Laboratories yang akan memberikan para penonton pengalaman menonton film dengan sensasi suara yang seperti aslinya (real surround system) Sistem suara ini menggunakan teknik digital untuk menghasilkan suara yang mana sistem suara ini adalah multi channel yang artinya memiliki banyak channel yg bekerja secara tersingkronisasi untuk memberikan kesan surround system.

Dolby® Digtal Surround 7.1: 


Tahun 2010 Dolby® Digtal Surround telah mencapai versi 7.1. Angka 7,1 berarti sistem surround ini memiliki 8 channel suara diamana terdiri dari :
1.Channel Central yang diletakkan lurus didepan penonton.
2.Channel Kiri depan yang diletakan di sebelah kiri depan dengan sudut 22-30 derajat dari sumbu poros penonton.
3.Chanel Kanan depan yang diletakkan di kanan depan dengan sudut 22-30 derajat dari sumbu poros penonton.
4. Channel samping kanan yang diletakan dengan sudut 90-110 derajat dari sumbu penonton.
5. Channel samping kiri yang diletakkan juga dengan sudut 90-110 derajat dari sumbu penonton.
6. Channel kanan belakang yang diletakkan dengan sudut 135-150 derajat dari sumbu penonton
7. Channel kiri belakang yang diletakkan dengan sudut 135-150 derajat dari sumbu penonton.
8. Channel subwoofer yang biasa di letakkan di depan bawah

Tahun 2012 Dolby memperkenalkan teknologi terbaru mereka yang disebut Dolby Atmos, Dolby Atmos merupakan teknologi virtual reality suara yang memaksimalkan penggunaan audio dalam penceritaan sebuah film. Teknologi ini juga memberikan kebebasan kepada para filmmaker untuk menempatkan atau memindahkan suara ke sudut mana pun di dalam gedung bioskop untuk menciptakan suasana seperti di kehidupan nyata, Dolby Atmos sudah digunakan oleh studio besar Hollywood, enam sutradara dan 11 orang sound mixers pemenang Academy Award. Dolby Atmos juga telah dipasang di lebih dari 300 layar di 100 perusahaan bioskop yang ada di 33 negara. Selain itu, 85 film dari berbagai genre di 10 negara rencananya juga akan dirilis dengan sistem audio Dolby Atmos. Termasuk film-film terbaru seperti The Hunger Games: Catching Fire, X-Men: Days of Future Past, dan masih banyak lagi. Di Indonesia sendiri, teknologi surround sound Dolby Atmos baru pertama kali diperkenalkan di Cinema 21 dan di pasangkan di Epicentrum XXI. Kabar gembiranya pada Maret 2015 ini dolbi atmos sudah di pasang di beberapa jaringan bioskop XXI lainnya ini listnya

Dolby Atmos at XXI: 
Sistem suara Dolby Atmos kini bisa di nikmati di:

Epicentrum XXI : Studio 1 dan 2
Plaza Senayan XXI : Studio 1 dan 2
Pondok Indah 2 XXI : Studio 1 dan 2
Gading XXI : Studio 1 dan 2
Senayan City XXI : Studio 1
Kasablanka XXI : Studio 1
Plaza Indonesia XXI : Studio 1 dan 2
Gandaria City XXI : Studio 1
Emporium XXI : Studio 1
Puri XXI : Studio 1
Karawaci XXI : Studio 1
PIM XXI Palembang : Studio 1
Empire XXI : Studio 1
Ciwalk XXI : Studio 1
Centre Point XXI Medan : Studio 1
Ciputra World XXI Surabaya : Studio 1
Alam Sutera XXi : Studio 1



CINEMA SOUND PROCESSOR
Merupakan alat pengolah audio dari sebuah film mendistribusikan ke setiap chanel dari speaker yang ada sehingga membentuk kualitas audio menjadi lebih hidup dan nyata layaknya suara yang kita dengar di kenyataan.

Berikut penampakan Cinema Sound Procesor 
Cinema Sound Procesor: 
Buatan Dolby Type CP650



Buatan Barco Type AP24-3D


Tugas1 - Artikel3 Softskill Teknologi New Media

Tema : Beberapa Teknologi yang Digunakan dalam Pembuatan Film Digital Cinema di Dunia


Pasti sudah banyak film-film hollywood yang kalian tonton sebelumnya, baik itu film nyata maupun animasi. Dan hampir semua film – film tersebut menggunakan efek-efek yang membuatnya terlihat sangat nyata. Sebut saja film ironman, transformer, fast furious dan avatar. Kesemuanya itu menggunakan teknologi CGI atau Computer Generated Imagery di dalamnya.
Teknologi CGI sendiri sering diterapkan dalam bida komputer grafis, khususnya 3D komputer untuk efek khusus dalam film, program televisi, comercial dan simulasi lainnya.

Dikutip dari jalantikus, berikut kami sajikan berbagai teknologi yang digunakan untuk menghasilkan efek-efek khusus di dunia perfilman :

1. Digital Location


Kalau membangkitkan aktor dari kematian aja bisa, membangun lokasi digital pastinya sudah kayak tepuk tangan saja sih. Ambil contoh Avatar lagi deh.
Di film ini, setiap adegan yang ber-setting di planet para alien biru yang disebut Pandora, keseluruhannya diciptakan secara digital. Pun begitu dengan angkasa luar di film Gravity.
Nggak sampai di sini, teknologi Digital Set rupanya juga bisa dipakai untuk memodifikasi lokasi yang sudah ada lho. Sebut aja gedung Avengers di serial Avengers atau gedung Oscorp di serial Amazing Spiderman.

2. Digital De-Aging


Kalian udah nonton film Pirates of The Caribbean terbaru? Pasti inget kan, adegan di mana Jack Sparrow versi muda muncul? Nah kalian tahu nggak, jika peran tersebut dimainkan oleh Johnny Depp juga?
Selanjutnya, ada film Captain America Civil War. Di sini pun, kalian bakal menemukan adegan di mana Tony Stark versi remaja diperankan Robert Downey Jr.

Menuakan atau memudakan aktor sebenarnya bukan hal baru. Karena sedari dulu, Hollywood udah melakukannya dengan kombinasi make-up dan wig. Kini dengan bantuan CGI, tampilan tua-muda kini benar-benar bisa terkesan nyata.
Perusahaan efek LOLA VFX udah jadi langganan para filmmaker Hollywood yang ingin menuakan atau memudakan aktor mereka.

3. Motion Capture

Teknologi Motion Capture atau MoCap telah digunakan di game sejak zaman SEGA lho. Penggunaannya di film sendiri, baru terjadi pada film The Lord Of The Rings: The Two Towers, untuk menciptakan karakter Gollum yang dimainkan oleh Andy Serkis.
Teknologi Motion Capture sendiri akhirnya berhasil mendapat dorongan kuat, setelah kesuksesan Avatar James Cameron pada tahun 2009, yang menghabiskan waktu 12 tahun untuk pra-produksi demi menyempurnakan kamera virtual untuk teknologi MoCap ini.

4. Digital Resurrection

Kamu ngikutin serial Fast and Furious atau mungkin Star Wars? Kamu tentu tahu dong jika salah satu Aktor Fast and Furious, yakni Paul Walker meninggal di tengah-tengah syuting? Tapi kenapa dia bisa tetap muncul di filmnya ya?
Padahal insiden kematiannya terjadi saat belum selesai shooting lho. Nah ternyata nih Gang, dengan menggunakan kombinasi teknologi CGI, Face Scanning, dan Motion Capture.
Tim visual efek dari Fast and Furious berhasil menciptakan versi CGI atau virtual Paul Walker menggunakan klip-klip lama. Setelah proses syuting selesai, wajah Paul Walker ditempelkan di wajah adiknya.

Trik yang sama juga dipakai oleh pembuat film Star Wars, ketika membuat Rogue One. Di mana mereka menghidupkan kembali karakter General Moff Tarkin yang dimainkan oleh Peter Cushing pada tahun 1977. Padahal Peter Cushing itu sendiri sudah meninggal sejak tahun 1994?

5. Digital Nudity

Kalian sudah pada nonton Game Of Thrones belum? Di season kelima serial HBO ini, ada satu adegan di mana karakter Ratu yang diperankan oleh Lena Headey harus berjalan di tengah kota tanpa busana.
Kalian mungkin membayangkan bahwa dia benar-benar melakukannya ya? Tapi, sayangnya kamu ketipu. Adegan tanpa busana yang dilakuoni oleh Lena Headey rupanya sentuhan digital alias bohongan.
Yap, lagi-lagi para pembuat film menggunakan gabungan syuting dan CGI. Syarat yang pertama, tentu pemeran pengganti harus mirip dengan pemeran utama.
Kedua, adegan dilakukan beberapa kali sekali dengan pemeran utama yang mengenakan busana, kemudian dilanjutkan dengan pemeran pengganti yang nggak memakai busana dan sekali lagi dengan green screen serta lighting yang bergerak.
Proses ini juga menggunakan facial scanning dan motion capture, hingga wajah pemeran utama yang ditempelkan di tubuh pemeran pengganti.

Sumber :

https://blogunik.com/teknologi-ini-biasa-digunakan-dalam-pembuatan-film-hollywood/

Tugas1 - Artikel2 Softskill Teknologi New Media

Tema : Perkembangan Teknologi 2D, 3D, dan 4D Beserta Contoh Software yang Digunakan


Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film cerita impor ini cukup laku di Indonesia. Jumlah penonton dan bioskop pun meningkat. Daya tarik tontonan baru ini ternyata mengagumkan. Film lokal pertama kali diproduksi pada tahun 1926. Sebuah film cerita yang masih bisu. Agak terlambat memang. Karena pada tahun tersebut, di belahan dunia yang lain, film-film bersuara sudah mulai diproduksi.
Perubahan dalam industri perfilman, jelas nampak pada teknologi yang digunakan. Jika pada awalnya, film berupa gambar hitam putih, bisu dan sangat cepat, kemudian berkembang hingga sesuai dengan sistem pengelihatan mata kita, berwarna dan dengan segala macam efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata. Film tidak hanya dapat dinikmati di televisi, bioskop, namun juga dengan kehadiran VCD dan DVD, film dapat dinikmati pula di rumah dengan kualitas gambar yang baik, tata suara yang ditata rapi, yang diistilahkan dengan home theater.
       Film 2 Dimensi (2D), 3 Dimensi (3D), dan 4 Dimensi (4D)
Perkembangan teknologi dan komputer menyebabkan industri perfilman juga mengikuti perkembangan yang ada. Mulai dari film bisu, film hitam putih, hingga film yang kita kenal seperti sekarang ini seperti film 2 dimensi (2D) dan 3 dimensi (3D). Dilihat dari cara pembuatannya, film produksi luar negeri seperti 20th Century Fox, Columbia Pictures, Dream Works SKG, Paramount Pictures, Pixar Animation Studios, Sony Pictures Entertainment, Universal Studios, Walt Disney Picture, lebih disukai baik di dalam negeri maupun luar negeri dikarenakan beberapa faktor, yaitu ceritanya yang tidak membosankan, setting yang menarik perhatian penonton, dan yang tak kalah pentingnya adalah efek yang diberikan di setiap adegan film yang menambah film tersebut terlihat seperti kenyataan.
     1. Film 2 dimensi (2D)
Film 2D biasanya digunakan pada film kartun. Film ini memberika kelebihan dalam penayangan yaitu memiliki suara yang jernih, gambar lebih halus, serta gambar yang telah di sensor hampir tidak terlihat. Kelemahannya yaitu kualitas hasil proyeksinya lebih kecil daripada film biasanya, dimana layar akan lebih kecil dikarenakan jika menggunakan layar lebih besar kualitasnya akan semakin berkurang. Softwae animasi 2D biasanya digunakan untuk membuat animasi tradisional dimana memiliki kemampuan dalam mengatur gerak, menggambar, sebagian bisa mengimpor suara dan mengatur waktu. Software yang digunakan yaitu Macromedia Flash,GIF Animation dan Corel Rave, Swish Max, After Effects, Moho, CreaToon, dan ToonBoo. Contoh film 2D adalah Shincan, Looney Toons, Pink Panther, Tom and Jerry, dan Scooby Doo
        2.   Film 3 dimensi (3D)


Kualitas film 3D memberikan tayangan 3 dimensi atau terlihat lebih nyata dengan menggunakan bantuan alat kacamata khusus. Jika tidak, gambar akan terlihat blur atau buram. Kacamata yang sering digunakan pada format film 3D adalah Red/Cyan dimana red (merah) di kiri dan cyan (biru) di kanan. Kelemahannya adalah film format 3D tidak disertai dengan terjemahan dikarenakan akan mengurangi kualitas film. Penggunaan kacamata dalam film 3D hanya pada bioskop, sedangkan pada televisi tidak memerlukan kacamata.
Pada penayanagan film 3D, menggunakan dua proyektor yaitu interlocking atau dengan menggunakan satu proyektor tapi memiliki dua lensa. Beberapa merk proyektor yang sering digunakan pada sinema digital adalah Barco, Sony, Kinoton, dan Christie. Berikut beberapa sistem penayangan sinema digital pada film 3D :
1.     Real D adalah sistem 3D yang digunakan karena efek 3D yang dihasilkan akan terus stabil tidak akan mengurangi kualitas film jika ditonton pada posisi kepala menunduk atau mendongak. Dikarenakan teknologi yang dipakai menggunakan circular polarization yang terdapat pada lensa kacamata dan perangkat yang berfungsi sebagai pengatur pencahayaan yang terpasang di optic proyektor. Didepan lensa proyektor, Real D memasang filter polarisasi. Silver screen merupakan layar khusus pada sistem Real D

2.     Dolby 3D dengan menggunakan teknologi colorwheel yang terdapat beberapa filter berwarna dengan fungsi mentransmisikan gambar dengan macam-macam level gelombang cahaya berguna dalam menayangkan efek gambar 3D. Pada Dolby 3D dipasang cakram spektrum warna didepan lampu proyektor untuk memodifikasi proyektor digital.

3.     IMAX 3D merupakan suatu perusahaan di bidang teknologi bioskop dimana awalnya hanya ikut dalam penayangan serta pengambilan gambar yang beresolusi lebih tinggi 35 mmpada format filmya yaitu 70 mm proyektor untuk penayangan dan 65 mm film negatif pada kamera IMAX. Perkembangan teknologi membuat kualitas gambar menjadi lebih baik dari 2K dalam 2 proyektor menjadi 4K dalam satu proyektor.

  3.   Film 4 dimensi (4D)

Tidak berbeda jauh dengan format 3D, hanya saja efek dari film 4D ini, bukan hanya gambarnya saja yang keluar, melainkan ada getaran-getaran atau efek-efek nyata yg dihasilkan. Misalnya saja film-film animasi bertema kehidupan alam, ketika adegan di air, maka ada air yang menyipratkannya ke wajah kita, atau uap air menetes. Lalu ketika adegan gempa bumi, maka kursi yang kita duduki akan bergetar juga, memang unik dan mengasyikan tetapi para penonton pasti tidak akan fokus ke filmnya melainkan ke efeknya saja. Film berformat seperti ini tidak hanya mengacu pada layar bioskop saja, melainkan beberapa aplikasi media seperti penggerak kursi yang menghasilkan getaran, uap air, serta beberapa efek lainnya, termasuk AC yang bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin saat adegan salju, dan Heater yang dapat memanas saat adegan padang pasir. Dan format film ini pun harus diputar pada bioskop-bioskop khusus saja.

images

4. Film Berteknologi 5D, 6D Bahkan Hingga 9D
5D Cinema: Membiarkan penonton dari pendengaran, penglihatan, penciuman, sentuhan dan orientasi untuk mencapai dinamis lima aneh bayangan ilusi.
6D Movie Theater: teater adalah total enam aula video, bermain enam film pendek, film masing-masing efek khusus akan bervariasi sesuai dengan perubahan di Kantor plot film, menyesuaikan lingkungan di dalam teater, seperti suara, suara,

Dalam waktu 3D 4D, 5D bioskop, dengan efek tempat duduk dan dampak lingkungan, pengalaman visual nyata dengan khusus, efek iritan disinkronkan kinerja untuk mensimulasikan adegan dengan kewenangan khusus dibentuk untuk meniru yang sebenarnya penonton untuk berpartisipasi dalam acara untuk menonton film 


Guangzhou Xindy Animasi Technology Co.Ltd. desain dan manufaktur set lengkap Peralatan bioskop 5D dengan luar cabin.Based pada lebih dari 14 tahun Perindustrian pengalaman teknologi, sejumlah keterampilan teknis khusus dan kontingen tim staf terampil, kami mengabdikan diri untuk penelitian dan pengembangan, manufaktur dan penjualan sistem bioskop 4D,5D Cinema, 6D bioskop teater,interaksi 7D bioskop,truk mobile 9D bioskop, Kabin taman 11d bioskop Systems, 5d 7d 6d Cinema Theater.

Aplikasi pembuatan film ini dikenal dengan nama CGI atau Computer Generated Imagery dan juga beberapa software yang populer dari aplikasi ini seperti Maya, Blender, Art of Illusion dll. CGI merupakan penerapan bidang komputer grafis khususnya dalam bidang 3D untuk efek khusus, iklan, program televisi maupun media cetak. Salah satu efek dari aplikasi CGI adalah digital grading, dimana warna asli objek pada saat shooting bisa dirubah sehingga sesuai dengan skenario. Contohnya adalah dalam film The Lord of the Rings, pada wajah Sean Bean yang ketika meninggal dibuat lebih pucat. Efek ini adalah murni efek komputerisasi dari aplikasi CGI, digital grading, dan bukan efek makeup. Penggunaan software ini memang sedikit banyak mempermudah pengambilan gambar karena bisa dilakukan langsung bersamaan pada saat editing. Jika menggunakan makeup akan ada waktu yang terbuang untuk menghapus makeup dan menggantinya lagi.
Teknologi yang semakin canggih tentu membutuhkan biaya yang juga tidak sedikit dan teknologi CGI ini tergolong teknologi yang cukup mahal. Satu frame CGI biasanya dibuat berukuran 1,4–6 megapiksel dan untuk membuat satu tokoh dengan adegannya saja biasanya dibutuhkan waktu untuk rendering setiap frame 2-3 jam, bahkan bisa jauh lebih lama jika membutuhkan sebuah adegan yang kompleks.
Cara sederhana untuk membuat efek pada suatu film, kita dapat menggunakan 3DMax, lightwave, Cinema4D, Maya, atau software yang gratis seperti Blender. Software tersebut sebenarnya merupakan software 3D modelling yang juga bisa untuk animasi. Selain software diatas ada beberapa software yang memang khusus untuk keperluan animasi & visual effect movie yaitu Vue, Bryce, Poser, dan DAZ Studio. Setelah animasi dan visual effect selesai selanjutnya dilakukan kombinasi atau penggabungan antara visual effect yang biasa disebut compositing. Software yang digunakan memiliki kemampuan dan fasilitas yang canggih dengan kualitas yang baik. Kelebihan dalam membuat objek 3D yaitu dalam pemberian efek , pengaturan dan penyesuaian gerak, impor suara dan video, serta yang lainnya. Beberapa software yang digunakan yaitu dengan Apple Shake, Adobe After Effects, Autodesk Combustion, D2 Software Nuke, Eyeon Digital Fusion, Jahshaka, MAX Studio, Alias Wave Front AMA, Light Wave, Poser (figure animation), Bryce (landscape animation), dan Maya. Namun untuk hasil yang lebih real atau nyata bisa menggunakan platform yang mengkombinasikan solusi software & hardware. Platform tersebut bisa dengan Autodesk Inferno, Autodesk Flame, dan Autodesk Flint.
Software pendukung yang biasa digunakan dalam pembuatan film 3D adalah sebagai berikut :
   1.     Adobe Premiere Pro 2.0
Adobe Premiere Pro 2.0 merupakan seri terbaru dari Adobe Premiere. Adobe Premiere Pro 2.0 adalah salah satu program yang sangat popular dalam dunia editing film. Program ini dibuat oleh perusahaan software yang terkenal, yaitu Adobe. Adobe Premiere Pro 2.0 dibuat untuk melakukan editing film dan juga untuk membuat animasi video digital.  
   2.     Adobe Photoshop 9.0
Adobe Photoshop 9.0 adalah Software Editing Image yang sangat popular. Software ini dibuat dengan fitur lengkap sehingga menghasilkan karya image yang lebih bagus dan handal.
   3.     3D Studio Max 7.0
3D Studio Max adalah software grafik yang memadukan antara Graphic Vector dengan Raster Image. Pemaduan ini bertujuan untuk menghasilkan hasil rancangan Virtual Reality atau mendekati keadaan yang sebenarnya.
   4.     Adobe After Effects 7.0
Adobe After Effects 7.0 adalah software yang digunakan untuk membuat berbagai efek pada sebuah animasi.
Contoh film dengan menggunakan sistem animasi 3D adalah Bugs Life, AntZ, Dinosaurs, Final Fantasy, Toy Story Series, Monster Inc., Finding Nemo, The Incredible, Shark Tale, dan masih banyak lagi.
Pembuatan film 3D pada dasarnya bisa dibagi menjadi tiga jenis, live action, animasi, dan konversi 2D ke 3D. Pembuatan film live action membutuhkan dua tahapan: syuting dengan kamera 3D dan pasca produksi (editing, colorgrading, mastering, dan sebagainya). Pembuatan animasi 3D dianggap lebih sederhana dengan menggunakan kamera virtual di komputer dan kesalahan efek 3D lebih bisa dihindari daripada pembuatan film 3D live action.
Konversi 2D ke 3D merupakan proses alternatif. Pengambilan gambar dilakukan secara 2D namun dalam pasca produksi dilakukan keputusan bahwa film juga diedarkan secara 3D. Proses konversi 2D ke 3D merupakan proses yang sangat intensif karena dilakukan duplikasi semua frame film agar didapat gambar ganda untuk mata kanan dan kiri sehingga biaya paska produksi membengkak. Biasanya konversi dilakukan terhadap film-film lama yang dirilis ulang ke format 3D seperti Nightmare Before Christmas dan Titanic(90an).
Biasanya proses pengambilan gambar (optik atau digital) memerlukan dual camera rig. Ada dua macam rig 3D yang umum yaitu side by side dan mirror rigSide by side rig adalah penempatan dua kamera identik secara berdampingan. Sistem ini lebih sederhana dibandingkan sistem mirror rig namun mempunyai kelemahan. Rig ini hanya ideal untuk kamera kecil. Pada kamera besar jarak kedua kamera menjadi terlalu dekat hingga bisa muncul masalah: interocular/interaxial (perspektif paralel jarak kedua lensa dari kedua kamera) tidak bisa cukup kecil untuk shot close up. Akibatnya kedalaman gambar terdistorsi memanjang.
Mirror rig berhasil mengatasi masalah itu namun mempunyai kelemahan lain: polarisasi gambar; pantulan atau refleksi pada sebuah objek di satu mata tidak ditemukan di mata lain. Problem ini bisa dikoreksi dengan menggunakan filter polarizer di lensa yang terdapat pantulan. Akibatnya cahaya yang masuk ke kamera berubah.
Selain menggunakan dual camera rig, ada pilihan ketiga, yaitu dengan menggunakan satu kamera dengan sistem dua lensa. Panasonic merupakan perusahaan pertama yang membuat kamera video digital berkualitas resolusi HD dengan dua lensa untuk membuat film 3D. Kamera ini menjadi alternatif bagi orang yang mau membuat film 3D dengan bujet lebih murah karena hanya menggunakan satu kamera. Kabarnya kamera ini digunakan pertama kali untuk membuat film Sex and Zen 3D: Extreme Ecstacy (Hongkong, 2011), yang merupakan film semi porno 3D pertama di dunia yang dibuat dengan teknologi digital.
Selain memilih sistem kamera yang cocok, ada dua metode yang harus diperhatikan dalam pengambilan gambar 3D yaitu parallel dan convergenceParallel adalah cara mengambil dua gambar dari kamera yang perspektifnya paralel lurus ke depan. Cara ini adalah cara yang sangat aman namun memerlukan usaha dan waktu banyak dalam penanganan paska produksi. Convergence, adalah cara menyilangkan perspektif kedua kamera sehingga kamera kanan mengambil gambar ke kiri sedang kamera kiri mengambil gambar ke kanan. Hasil dari pengambilan gambar ini lebih gampang diolah di tahap pasca produksi namun apabila terjadi over-convergence (penyilangan berlebihan), hasil syuting sulit untuk diproses menjadi gambar 3D yang baik.
Pengerjaan pasca produksi untuk film 3D membutuhkan perangkat yang mendukung materi 3D. Alat-alat yang dimaksud adalah display monitor atau proyektor, sistem color grading, dan online editing/special effect.
Monitor atau proyektor yang digunakan harus memiliki kemampuan untuk melihat gambar film 3D. Ada dua jenis sistem yang bisa digunakan, aktif dan pasif. Sistem aktif adalah dengan menggunakan kacamata 3D dari LCD (Liquid Crystal Display) yang secara berganti-gantian berkedip-kedip antara mata kanan dan kiri. Kaca mata ini merupakan perangkat elektronik yang terkoneksi dengan infra merah ke display monitor. Selain mahal, kaca mata ini membutuhkan tenaga baterai dan biasanya hanya dijual sebagai satu set dengan alat display merek yang sama dan umumnya tidak kompatibel dengan monitor atau proyektor 3D  merek lain. Sementara sistem pasif menggunakan kaca mata polarized 3D biasa yang tidak mahal haganya dan bisa dipakai dengan display monitor atau sistem proyektor 3D profesional merek apa saja.
Berbagai merek alat color-grading maupun online editing di masa sekarang memiliki fitur untuk pengerjaan film 3D yaitu kemampuan untuk mengerjakan dua track gambar untuk mata kanan dan mata kiri dengan mengatur axis x, y, dan z (sistem koordinat Cartesian). Pada pengerjaan film 2D, pengaturan dimensi gambar direpresentasikan dengan menggunakan fitur axis x dan y yang merepresentasikan panjang dan tinggi gambar film. Sedang untuk pengerjaan film 3D ditambahkan axis y yang mengatur depth (kedalaman persepektif) untuk mendapatkan efek tiga dimensi. Quantel Pablo merupakan salah satu contoh merek gabungan sistem color-grading dan online editing yang pertama keluar. Beberapa merek alat terkenal lain juga sekarang memiliki model terbaru dengan fitur untuk 3D seperti Scratch, Davinci Resolve, Autodesk, Nuke, dan sebagainya.

Penayangan film 3D di bioskop digital memerlukan dua proyektor interlocking atau satu proyektor dengan dua lensa. Merek-merek proyektor terkenal yang biasa digunakan untuk sinema digital adalah Christie, Barco, Sony, dan Kinoton.
Selain itu diperlukan alat untuk mengatur agar proyektor optik bisa memutar film 3D. Ada beberapa merek terkenal yang membuat peralatan ini seperti RealD, Dolby 3D, dan IMAX 3D. Real D merupakan sistem 3D bioskop yang paling banyak digunakan pada saat ini karena efek tiga dimensi yang dihasilkan tetap stabil walaupun penonton melihat dalam posisi kepala mendongak atau menunduk. Ini disebabkan karena teknologi circular polarization yang ada di lensa kaca mata dan sebuah perangkat untuk mengatur pencahayaan yang dipasang di proyektor optik. Selain itu dari faktor ekonomis, harga kaca mata circular polarization lebih murah daripada kaca mata berteknologi lain seperti LCD.
Dolby 3D memakai teknologi colorwheel yang memiliki sejumlah filter berwarna yang berfungsi mentransmisikan gambar dengan berbagai level gelombang cahaya untuk menampilkan efek gambar 3D. Metode ini disebut wavelength multiplex visualization. Kaca mata untuk sistem Dolby 3D lebih mahal dari buatan RealD dan rapuh. Namun kelebihan Dolby 3D dibanding kompetitor seperti RealD adalah bisa berfungsi di proyektor konvensional.
IMAX 3D adalah perusahaan di bidang teknologi bioskop yang awalnya berkecimpung dalam  pengambilan gambar dan penayangan film dengan format film resolusi lebih tinggi dari 35mm, yaitu 65mm film negatif dengan kamera IMAX dan 70mm proyektor IMAX untuk penayangan. Karena resolusi yang dihasilkan sistem ini besar maka ukuran layar bioskop IMAX berukuran sangat besar dibandingkan di bioskop konvensional. IMAX sudah terlibat dalam penanganan 3D sejak zaman analog dengan membuat proyektor untuk copy film 70mm dengan dua lensa yang berjarak 64mm (jarak rata-rata antara kedua mata manusia). Ketika IMAX mulai menggunakan teknologi digital di tahun 2008, mereka mendapatkan bahwa resolusi yang dihasilkan oleh dua proyektor 2K tidak bisa menyamai kualitas print 70mm analog. Mereka menemukan bahwa kualitas gambar dari dua proyektor 2K tetap lebih rendah dari satu proyektor 4K. Semenjak 2012, IMAX bekerja sama dengan Barco menghasilkan dua buah proyektor 4K dan menurut laporan hasilnya cukup bagus.
Sebagian industri perfilman sedang merilis film 4 dimensi (4D) yaitu dimana si penonton benar-benar merasakan seakan dia sedang berada pada latar film tersebut ditambah dengan pergerakan kursi dan efek yang ditumbulkan dari ruangan tersebut yang menyebabkan penonton benar-bernar bergerak ke segala arah. Film 4 dimensi di Indonesia pernah di putar di Dunia Fantasi, Jakarta beberapa tahun yang lalu. Film tersebut menceritakan tentang seekor berunag kutub kecil yang terpisah dengan induknya akibat melelehnya es di kutub karena suhu di kutub semakin memanas. Efek ruangan yang ditimbulkan adalah semprotan air seakan-akan penonton merasakan cipratan air saat bongkahan es jatuh di hadapan mereka. Kemudian kursi digerakkan mengikuti arah bongkahan es yang bergerak seakan-akan penonton berada di bongkahan es yang mengarungi lautan luas.

Referensi :
https://ulfahputribisbapti.wordpress.com/2014/12/16/perkembangan-teknologi-dalam-bidang-perfilman/
[1] Edinburgh Gate, Longman Active Study Dictionary 5th Edition, (United Kingdom:Pearson Longman, 2010), cet. ke-5, h. 330.

Tugas1 - Artikel1 Softskill Teknologi New Media


Tema : Pengertian dan Sejarah Digital Cinema




Digital Cinema

Sinema yang sekarang berada di mall terdekat merupakan sinema digital atau di bilang bioskop, tetapi sebetulnya sinema itu apa sih? Mari kita lihat pengertian sinema itu sendiri. Sinema (akar kata dari cinema = kinematik = gerak). Film sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa di kenal di dunia para sineas seluloid. Pengertian secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah suatu kumpulan gambar yang bergerak. Film dapat diciptakan dengan menggunakan alamt bantu yang bernama kamera, karena kamera inilah yang merekam/ melukis gerak dengan cahaya.

Bagaimana dengan Digital Cinema? Sinema digital merujuk pada penggunaan teknologi digital untuk mendistribusikan dan menayangkan gambar bergerak. Sebuah film dapat didistribusikan lewat perangkat keras, piringan optik atau satelit serta ditayangkan menggunakan proyektor digital alih-alih proyektor film konvensional.
Sinema digital berbeda dari HDTV atau televisi high definition. Sinema digital tidak bergantung pada penggunaan televisi atau standar HDTV, aspek rasio atau peringkat bingkai. Proyektor digital yang memiliki resolusi 2K mulai disebarkan pada tahun 2005, dan sejak tahun 2006 jangkauannya telah diakselerasi.



Sinema digital dapat dibuat dengan media video yang untuk penayangannya dilakukan transfer dari format 35 milimeter (mm) ke format high definition (HD). Proses transfer ke format HD melalui proses cetak yang disebut dengan proses blow up. Setelah menjadi format HD, penayangan film dilakukan dari satu tempat saja, dan dioperasikan ke bioskop lain dengan menggunakan satelit, sehingga tidak perlu dilakukan salinan film. Contohnya, dari satu bioskop di Jakarta, film dapat dioperasikan atau diputar ke bioskop-bioskop di daerah melalui satelit.

Sejarah

Pemutaran media digital hi-resolusi 2K file setidaknya memiliki sejarah 20 tahun dengan unit penyimpanan data video awal (penggerebekan) menggodok sistem frame buffer custom dengan memory besar. Konten biasanya dibatasi hingga beberapa menit material. Transfer konten antara remote locations lambat dan memiliki kapasitas terbatas. Proyek-proyek feature-length bisa dikirim melalui 'kawat' (Internet atau link fiber dedicated) tidak sampai akhir 1990-an.

Pada tanggal 23 Oktober 1998, digital light processing (DLP) teknologi proyektor ditunjukkan publik untuk pertama kalinya dengan merilis The Last Broadcast, film pertama feature-length, di-shot, diedit dan didistribusikan secara digital.



Pada tanggal 18 Juni 1999, DLP Cinema teknologi proyektor Texas Instrument ditunjukkan publik pada empat layar di Amerika Utara (Los Angeles dan New York) untuk rilis Lucasfilm Star Wars: Episode I:. The Phantom Menace. Bioskop dengan proyektor digital yang memproyeksikan cuplikan langsung dari komputer Pixar Animation. Pada tanggal 19 Januari 2000, Society of Motion Picture dan Television Engineers, di Amerika Utara, yang diprakarsai kelompok standar pertama yang di dedikasikan untuk mengembangkan Digital Cinema.

Perkembangan pada tahun selanjutnya adalah sangat pesat. Semua theater di dunia berbondong-bondong menyuplai layar digital dan proyektor untuk di pasang di masing-masing theater. Ini mencerminkan bahwa teknologi ini diterima dengan sangat baik di khalayak luas.



Sampai 31 Maret 2015, 38719 layar (dari total 39.789 layar) di Amerika Serikat telah dikonversi ke digital (15.643 dari yang 3D mampu), 3007 layar di Kanada telah dikonversi (1.382 di antaranya adalah 3D), dan 93.147 layar internasional telah dikonversi (59.350 di antaranya adalah 3D). Jumlah yang beratus-ratus kali lipat dibandingkan dengan jumlah awal saat dikenalkan pertama kali. Dapat dilihat, respon dan keinginan masyarakat sangat kuat akan Digital Cinema sampai detik ini.

Banyak sekali contoh film yang menggunakan teknik digital cinema, seperti Spy Kids 3-D: Game Over [Dimension Films] (Digital 3D) (2003), The Nightmare Before Christmas (Re-Release) [Disney] (XPan 3d, Real D, Dolby 3D) (2006), How to Train Your Dragon [Paramount/Dreamworks, designed in stereoscopic 3D] (IMAX 3D, Real D) (2010).



Salah satu scene dalam film "How To Train Your Dragon"

Referensi :